SEKOL
Latest News
Showing posts with label SEJARAH. Show all posts
Showing posts with label SEJARAH. Show all posts

NUZULUL QUR'AN

Posted by MUHAMMAD YUSUF on Saturday, August 29, 2009 , under , , , , | comments (0)




Salah satu momen terpenting yang terjadi di bulan Ramadhan nan mulia adalah peristiwa diturunkannya al-Qur`ān. Mengingat pentingnya peristiwa tersebut, banyak masyarakat sampai-sampai membuat peringatan ritual terkait peristiwa itu, yang mereka yakini jatuh pada tanggal 17 Ramadhan dan mereka namakan dengan peringatan Nuzūlul Qur`ān. Namun pada kesempatan kali ini saya tidak akan membahas kebid’ahan dan ketidaksesuaian acara dimaksud dalam tinjauan syariat—menurut pendapat yang benar in syā-aLlāh. Hal ini mengingat sudah terdapat cukup banyak tulisan dari ulama dan para ustadz yang membahasnya. Tulisan singkat saya kali ini adalah seputar sebagian hikmah dari ayat al-Qur`ān yang pertama kali diturunkan dan korelasinya dengan peradaban manusia.


Kita ketahui bersama bahwa ayat al-Qur`an yang pertama kali diterima oleh Nabi ` adalah ayat 1-5 dari surat al-’Alaq:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ {1} خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ {2} اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ {3} الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ {4} عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ {5}

[1] Bacalah dengan nama Rabbmu yang menciptakan. [2] Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. [3] Bacalah, dan Rabbmulah yang maha mulia. [4] Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. [5] Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Surat yang pertama turun tersebut dimulai dengan kata: iqra`; perintah untuk membaca. Dapat dipahami dari hal ini bahwa Allah mengisyaratkan kepada hamba-Nya bahwa membaca adalah awal atau kunci pembuka segala sesuatu bentuk kebaikan.

Kata imperatif iqra` (bacalah!) berasal dari kata qara-a, yang makna dasarnya adalah mengumpulkan atau menghimpun (jama’a). Kata al-Qur`an juga berasal dari akar kata yang sama. Filosofinya, ketika seseorang membaca berarti ia tengah menghimpun huruf-huruf yang tertera atau tengah mengumpulkan informasi dari objek yang dibaca.

Terkait dengan perintah membaca pada ayat yang pertama turun, maka tidak disebutkan objek bacaan, namun hanya menyebut pengedepanan motivasi sekaligus tujuan membaca, yaitu bismi Rabbikal ladzī khalaq (dengan nama Rabbmu yang menciptakan). Dengan demikian, ayat tersebut mengisyaratkan bahwa objek bacaan tersebut bersifat umum, apapun itu, asalkan dapat dijadikan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Bagaimana dengan objek bacaan yang memuat keburukan? Penting kiranya untuk dibedakan antara objek bacaan yang menginformasikan hal-hal buruk untuk diketahui oleh si pembaca, dan objek bacaan yang pada dasarnya buruk, semisal majalah porno, dan sebagainya. Adapun kondisi yang pertama, maka tidak mengapa. Sebab dengan mengetahui keburukan maka seseorang dapat menjaga diri darinya. Karena itulah Hudzaifah Ibn al-Yaman pernah berkata,

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – عَنِ الْخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي.

“Dahulu orang-orang (para Sahabat) bertanya kepada Rasulullah ` tentang kebaikan. Sementara aku menanyakan kepada beliau tentang keburukan, karena khawatir terjerumus ke dalamnya.” [Riwayat al-Bukhāri (III/1319) no. 3411; Muslim (III/1475) no. 1847; dan lain-lain]

‘Umar Ibn al-Khaththāb berkata, “Sesungguhnya simpul Islam itu akan terurai satu per satu apabila seseorang itu tumbuh besar dalam Islam sedangkan ia tidak mengetahui jahiliyyah.” [Al-Fawā`id, hal. 109 dan al-Jawāb al-Kāfī, hal. 152]

Hal ini juga selaras dengan ucapan penyair,

عَرَفْتُ الشَّرَّ لاَ لِلشَّرِّ لَكِنْ لِتَوَقِّيْهِ

وَمَنْ لَمْ يَعْرِفِ الشَّرَّ مِنَ النَّاسِ يَقَعُ فِيْهِ

Aku mengetahui keburukan bukan untuk keburukan,

namun untuk menjaga diri darinya.

Karena barangsiapa yang tidak mengetahui keburukan,

niscaya ia akan terjatuh ke dalamnya.

[Lihat Miftāh Dār as-Sa'ādah (I/296) dan Ihyā` 'Ulūm ad-Dīn (I/77)]

Perhatikan kembali susunan ayat di atas. Awalnya, hanya disebutkan Rabb yang menciptakan, tanpa menciptakan objek ciptaan, dimana hal ini memberikan faidah keumuman, yaitu mencakup segala macam makhluk ciptaan. Namun ayat selanjutnya menyebutkan bahwa Rabb tersebut menciptakan manusia. Ini merupakan bentuk pemuliaan manusia di atas makhluk ciptaan yang lain.

Ayat berikutnya menegaskan kembali perintah untuk membaca diikuti oleh penyebutan Rabb yang maha mulia (akram). Hal ini menegaskan agungnya perbuatan membaca sekaligus secara implisit mengisyaratkan bahwa apabila manusia ingin mulia maka ia harus membaca, serta bahwa sebab pemuliaan manusia di atas makhluk ciptaan lainnya diantaranya adalah karena membaca, disamping menulis—sebagaimana disebut pada ayat sesudahnya.

Membaca merupakan gerbang segala ilmu pengetahuan, sedangkan ilmu merupakan sumber perkembangan peradaban di dunia sekaligus sumber kebahagiaan dan kejayaan di dunia dan akhirat. Imam asy-Syāfi’i telah mensinyalir hal tersebut melalui ucapan beliau, “Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hendaklah ia mencari ilmu dan barangsiapa yang menginginkan akhirat maka hendaklah ia mencari ilmu.” [Nasyr Thayyit Ta'rīf fī Fadhl Hamalah al-'Ilm asy-Syarīf hal. 162]

Merupakan fakta yang diterima oleh semua orang bahwa tingkat peradaban suatu bangsa berbanding lurus dengan tingkat ilmu pengetahuannya, sedangkan pintu gerbang pertama dan utama ilmu pengetahuan adalah dengan membaca.

Karena ilmu pengetahuan maka umat Islam mencapai masa kejayaan dan menjadi pusat peradaban pada masa Dinasti ‘Abbasiyyah (abbasid caliphates), yaitu sekitar 750-1250 M; ketika Barat justru sedang mengalami zaman kegelapan (dark ages).

Zaman kegelapan di Barat bermula dari kejatuhan raja Romulus Augustulus pada tahun 476 M. Barulah sekitar 1000 tahun kemudian timbul era modernisasi di Barat, yang dikenal dengan istilah renaissance. Mengikut pendapat yang lain era modern dimulai pada tahun 1453 yaitu ketika kota Konstantinopel jatuh ke tangan kaum muslimin.

Dalam The Story of Medicine, Victor Robinson mengisahkan tentang Zaman Kegelapan bahwa Eropa gelap pada waktu malam sementara Cordova, yang dikuasai kaum muslimin, bermandikan cahaya. Eropa dalam kondisi kotor sedangkan Cordova membangun seribu tempat mandi. Eropa dipenuhi serangga sedangkan penduduk Cordova menukar pakaian dalam mereka setiap hari. Tokoh-tokoh Eropa tidak mengetahui cara menandatangani nama sendiri sedangkan anak-anak di Cordova sudah ke sekolah. Tokoh-tokoh agama di Eropa tidak cara tahu membaca risalah Kristiani sementara ulama Islam di Cordova menuliskan literatur-literatur ilmiah dalam format besar.

Banyak peneliti Barat tidak menyukai penggunaan istilah dark ages (zaman kegelapan). Mereka lebih menyukai istilah middle ages (zaman/abad pertengahan). Dalam The History of The Arabs, Philip K. Hitti berkata, “Orang Islam Spanyol berjaya mencatat sejarah intelektualitas yang agung di zaman pertengahan dahulu. Merekalah sebenarnya pembawa obor budaya dan tamadun bagi seluruh dunia terutamanya antara abad kelapan dan tiga belas Masehi.”

Selepas sekian lama berada di zaman kegelapan, akhirnya Barat mengalami era modernisasi yang dikenal dengan renaissance. Kata renaissance berasal dari bahasa Perancis yang berarti rebirth atau kelahiran kembali. Ia merupakan zaman kebangkitan budaya dan ilmu di Eropa yang berlaku pada kurun waktu sekitar tahun 1300 dan 1600 Masehi. Zaman kebangkitan ini bermula di Italia, sebelum berkembang ke Jerman, Perancis dan Inggris. Pada awalnya, kebangkitan ini bertumpu pada bidang seni dan sastra.

Pada abad XVII Masehi lahirlah para saintis besar di Barat seperti Galileo, William Harvey, Isaac Newton dan Robert Boyle. Mereka melahirkan metodologi sains yang dianggap baru dan dengan demikian meledaklah ilmu sains di Barat, meskipun di awal perkembangannya harus berkonfrontasi dengan gereja. Selepas itu Barat tidak pernah menoleh ke belakang lagi dan terus mengembangkan modernisasi sampai hari ini.

Marquis of Dufferin and Ava dalam Speeches berkata, “Eropa berhutang budi kepada sains, seni dan sastera Islam. Faktor-faktor itulah yang menyebabkan Eropa akhirnya keluar dari kegelapan zaman pertengahan.”

Perkara yang sarna dinyatakan oleh Dr. Roben Briffault dalam The Making of Humanity pada bab Dar Al-Hikmet. Dia berkata, “Roger Bacon bukanlah tokoh yang memperkenalkan konsep eksperimen dalam ilmu. Beliau hanyalah merupakan anak murid kepada sains dan metodologi Islam, dan ilmu yang beliau peroleh ini kemudian dia kembangkan ke Barat. Dia tidak pernah jemu untuk mengatakan bahawa bahasa Arab dan sains Arab adalah satu-satunya pintu bagi mereka di zamannya untuk mengenali ilmu yang hakiki…. Sumbangan dari tamadun Arab kepada dunia moden yang paling bermakna ialah sains.”

Memang benar, tanpa Islam Barat tidak akan mengenal sains dan teknologi. Mari kita simak apa yang dikatakan oleh Robert Briffault dalam The Making of Humanity pada bab Dar Al-Hikmet. Dia berkata, “Di bawah naungan konsep toleransi agama, golongan Kristian hidup penuh kebebasan di bawah pemerintahan khalifah Islam di Spanyol…. Pelajar-pelajar Kristian dari pelbagai pelosok Eropa datang ke negara Arab ini untuk belajar. Alvaro, seorang paderi kanan di Cordova, menulis pada abad ke-9 Masehi, ‘Kesemua pelajar Kristian yang berbakat ini mengetahui bahasa dan kesusasteraan Arab. Mereka membaca dengan penuh minat buku-buku karangan orang Arab dan berasa amat kagum dengan kesusasteraannya’. Gerbert of Aurillac membawa beberapa bahan tentang astronomi dan matematik dari Spanyol untuk mengajar anak-anak muridnya tentang alam serta sistem cakrawala.”

Selanjutnya dalam buku yang sama, pada bab Rebirth of Europe, dia berkata, “Orang-orang Arab memperkenalkan tiga ciptaan untuk Eropa. Setiap ciptaan ini kemudian melahirkan revolusi teknologi yang tersendiri di peringkat global. Pertama adalah kompas (mariners compass). Dengannya Eropa berkembang ke seluruh pelosok dunia. Kedua adalah bubuk bedil (gun powder). Dengannya berakhirlah era pahlawan berkuda dengan baju perisainya. Ketiga adalah kertas (paper), yang membuka jalan kepada ciptaan alat-alat penerbitan yang canggih.”

Demikianlah Islam memberi andil dalam peradaban dan ilmu pengetahuan dunia. Pencapaian (achievement) yang sedemikian tentu tidak lepas dari semangat membaca yang telah ditanamkan oleh Islam sejak permulaan risalah melalui wahyu yang pertama kali diturunkan.

Kejayaan Islam kemudian mengalami penurunan sangat drastis terutama sejak keruntuhan Dinasti ‘Abbasiyyah akibat serangan Hulagu Khan ke Baghdad pada tahun 1258 M (Muharram 656 H)—dibantu oleh pengkhianatan menteri bernama Ibn al-‘Alqami, dari sekte Syī’ah Rāfidhah, semoga Allah membalas segala kejahatan, keburukan dan bencana yang ia telah timpakan terhadap kaum muslimin. Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ahli sejarah mengenai korban yang tewas. Paling sedikit delapan ratus ribu jiwa, dan ada pula yang mengatakan mencapai sejuta jiwa, bahkan jauh lebih banyak dari itu.

Sungai di Baghdad berubah menjadi warna merah kehitaman. Merah karena darah dan hitam karena tinta. Perpustakaan Baghdad luluh lantak. Para peneliti menyebutkan bahwa literatur Islam yang hancur ketika itu jauh lebih banyak dibandingkan seluruh literatur Islam yang selamat sampai saat ini. Dan dari literatur yang selamat tersebut, jauh lebih banyak yang masih berupa manuskrip dibandingkan dengan yang sudah dicetak.

Akhirnya, keunggulan kejayaan peradaban Islam hanyalah menjadi romantisme sejarah….

Saat ini, dapat dikatakan bahwa ketertinggalan negeri-negeri kaum muslimin dibandingkan Barat adalah disebabkan ketertinggalan human resources (sumber daya manusia) karena kurangnya ilmu pengetahuan, di mana salah satu faktor terpenting yang paling berpengaruh dalam hal ini adalah rendahnya minat baca.

Sekali lagi, sejarah peradaban manusia dikemudikan oleh kegiatan membaca. Minat baca yang rendah akan berimplikasikan pada rendahnya sumber daya manusia. Rendahnya sumber daya manusia akan mempengaruhi tingkat kemajuan suatu bangsa. Dengan kata lain, sebuah peradaban manusia ditentukan oleh sumber daya manusianya, sedangkan di sisi lain sumber daya manusia sangat dipengaruhi oleh kemampuan membacanya.

Terkait dengan minat baca di Indonesia, negeri kita, maka dapat dilihat dari posisi Indonesia pada aspek penilaian Human Development Index (IPM: Indeks Pembangunan Manusia) pada tahun 2003 menempati posisi nomor 112 dari 175 negara. Begitu juga dari kategori The Politic Economic Risk Constitution (PERC) 2003. Indonesia menempati posisi ke 12 dari 12 negara. Budaya membaca kita masih rendah juga tercermin dari, misalnya, realitas penerbitan buku di Indonesia belum ada apa-apanya dibanding Amerika Serikat atau Inggris. Pada pertengahan 1990-an saja masing-masing negara ini dalam sebulan mampu menerbitkan 100.000 dan 61.000 judul, sedangkan negara kita hanya sanggup menerbitkan buku kurang dari 10 ribu judul setiap tahun.

Sastrawan kondang, Taufik Ismail, melalui observasinya terhadap beberapa siswa SD di kawasan ASEAN, mengatakan bahwa anak-anak Indonesia rabun membaca dan lumpuh menulis. Kenyaatan ini sungguh mengerikan di tengah adanya kekhawatiran para ahli pendidikan tentang terjadinya generasi yang hilang (the loss generation) di negeri kita.

Fakta tersebut didukung dengan berbagai penelitian yang telah dilakukan di Indonesia. Di samping hasil penelitian yang telah disebutkan sebelumnya, International Education Achievement (IEA) melaporkan bahwa kemampuan membaca siswa SD Indonesia berada pada urutan 38 dari 39 negara peserta studi. Menurut Third International Mathematics and Science Study (TIMMS), kemampuan matematika para siswa SLTP kita berada pada urutan 34 dari 38 negara dan kemampuan IPA berada pada urutan 32 dari 38 negara. Berdasarkan Education for All Global Monitoring Report tahun 2005, Indonesia merupakan negara ke-8 dengan populasi buta huruf terbesar didunia, yakni sekitar 18,4 juta orang (Kompas, 20 juni 2006). Terkait dengan masalah membaca, fakta lain adalah laporan tingkat keterbacaan halaman buku di Indonesia yang tidak mencapai satu halaman per hari perorang.

Akhirnya, penting untuk kita tanamkan bahwa membaca adalah simbol kemajuan sebuah peradaban. Ia membedakan peradaban maju dengan primitif, antara negara maju dan negara berkembang. Melihat begitu pentingnya membaca, ia pun dijadikan salah satu indeks bagi pembangunan manusia, yang sering dijadikan ukuran keberhasilan pembangunan sebuah negara. Dengan demikian, tampaklah salah satu hikmah mengapa Allah Ta’āla menurunkan wahyu pertama dengan perintah membaca. Semoga hal ini dapat menjadi concern kita bersama.

Demikian, semoga ada faidahnya, waLlāhu a’lam bish shawāb….

Salam,

Abu Faris An-Nuri

NB:

Perintah untuk membaca yang dimaksud dalam ayat di atas adalah bersifat umum, tidak hanya terbatas dalam bentuk membaca buku atau memahami tulisan, meskipun hal itu adalah yang pemaknaan yang sangat utama untuk diberlakukan. Membaca yang dimaksud adalah mencakup mengamati situasi dan kondisi serta meneliti semesta raya nan indah. Sekiranya perintah tersebut hanya terbatas untuk membaca sebagaimana yang lazim dikenal, tentulah Nabi ` akan senantiasa berusaha membebaskan diri dari kondisi ummi (buta huruf) dalam rangka memenuhi perintah tersebut. WaLlāhu a’lam bish shawāb.

TANDA MALAM LAILATUL QADAR

Posted by MUHAMMAD YUSUF on Wednesday, August 26, 2009 , under , , , , | comments (0)





Diantara kita mungkin pernah mendengar tanda-tanda malam lailatul qadar yang telah tersebar di masyarakat luas. Sebagian kaum muslimin awam memiliki beragam khurofat dan keyakinan bathil seputar tanda-tanda lailatul qadar, diantaranya: pohon sujud, bangunan-bangunan tidur, air tawar berubah asin, anjing-anjing tidak menggonggong, dan beberapa tanda yang jelas bathil dan rusak. Maka dalam masalah ini keyakinan tersebut tidak boleh diyakini kecuali berdasarkan atas dalil, sedangkan tanda-tanda di atas sudah jelas kebathilannya karena tidak adanya dalil baik dari al-Quran ataupun hadist yang mendukungnya. Yang benar tanda-tanda malam lailatul qadar yang pernah disebutkan oleh hadist Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam paling tidak ada empat yang dapat kita ketahui bersama meskipun tanda-tanda tersebut tidak harus ada. Diantaranya:

1. Udara dan suasana pagi yang tenang

Ibnu Abbas radliyallahu’anhu berkata: Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Lailatul qadar adalah malam tentram dan tenang, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, esok paginya sang surya terbit dengan sinar lemah berwarna merah” (Hadist hasan)

2. Cahaya mentari lemah, cerah tak bersinar kuat keesokannya

Dari ubay bin ka’ab radliyallahu’anhu, bahwasanya rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Keesokan hari malam lailatul qadar matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar bak nampan” (HR Muslim)

3. Terkadang terbawa dalam mimpi

Seperti yang terkadang dialami oleh sebagian sahabat Nabi radliyallahu’anhum

4. Bulan nampak separuh bulatan

Abu Hurairoh radliyallahu’anhu pernah bertutur: Kami pernah berdiskusi tentang lailatul qadar di sisi Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam, beliau berkata,

“Siapakah dari kalian yang masih ingat tatkala bulan muncul, yang berukuran separuh nampan.” (HR. Muslim)

Referensi:

Majalah Adz-Dzakiroh edisi khusus Ramadhan-Syawal 1429 Hal. 27-28

author: http://maramissetiawan.wordpress.com

ZAKAT FITRAH

Posted by MUHAMMAD YUSUF on , under , , , , | comments (0)





Zakat fitrah adalah wajib atas setiap muslim dan muslimah. Berdasar hadits berikut, Dari Ibnu Umar r.a. ia berkata, “Rasulullah saw. telah memfardhukan (mewajibkan) zakat fitrah satu sha’ tamar atau satu sha’ gandum atas hamba sahaya, orang merdeka, baik laki-laki maupun perempuan, baik kecil maupun tua dari kalangan kaum Muslimin; dan beliau menyuruh agar dikeluarkan sebelum masyarakat pergi ke tempat shalat ‘Idul Fitri.” (Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari III :367 no:1503, Muslim II: 277 no:279/984 dan 986, Tirmidzi II : 92 dan 93 no: 670 dan 672, ‘Aunul Ma’bud V:4-5 no: 1595 dan 1596, Nasa’i V:45, Ibnu Majah I: 584 no:1826 dan dalam Sunan Ibnu Majah ini tidak terdapat “WA AMARA BIHA…”).

Hikmah Zakat Fitrah

Dari Ibnu Abbas r.a. berkata, “Rasulullah saw. telah mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan yang kotor, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa yang mengeluarkannya sebelum (selesai) shalat ‘id, maka itu adalah zakat yang diterima (oleh Allah); dan siapa saja yang mengeluarkannya sesuai shalat ‘id, maka itu adalah shadaqah biasa, (bukan zakat fitrah).” (Hasan : Shahihul Ibnu Majah no: 1480, Ibnu Majah I: 585 no: 1827 dan ‘Aunul Ma’bud V: 3 no:1594).

Siapakah Yang Wajib Mengeluarkan Zakat Fitrah

Yang wajib mengeluarkan zakat fitrah ialah orang muslim yang merdeka yang sudah memiliki makanan pokok melebihi kebutuhan dirinya sendiri dan keluarganya untuk sehari semalam. Di samping itu, ia juga wajib mengeluarkan zakat fitrah untuk orang-orang yang menjadi tanggungannya, seperti isterinya, anak-anaknya, pembantunya, (dan budaknya), bila mereka itu muslim.

Dari Ibnu Umar r.a. ia berkata, “Rasulullah saw. pernah memerintah (kita) agar mengeluarkan zakat untuk anak kecil dan orang dewasa, untuk orang merdeka dan hamba sahaya dari kalangan orang-orang yang kamu tanggung kebutuhan pokoknya.” (Shahih : Irwa-ul Ghalil no: 835, Daruquthni II:141 no: 12 dan Baihaqi IV: 161).

Besarnya Zakat Fitrah

Setiap individu wajib mengeluarkan zakat fitrah sebesar setengah sha’ gandum, atau satu sha’ kurma, atau satu sha’ kismis, atau satu sha’ gandum (jenis lain) atau satu sha’ susu kering, atau yang semisal dengan itu yang termasuk makanan pokok, misalnya beras, jagung dan semisalnya yang termasuk makanan pokok.

Adapun bolehnya mengeluarkan zakat fitrah dengan setengah sha’ gandum, didasarkan pada hadits dari ‘Urwah bin Zubair r.a., (ia bertutur), “Bahwa Asma’ binti Abu Bakar r.a. biasa mengeluarkan (zakat fitrah) pada masa Rasulullah saw., untuk keluarganya yaitu orang yang merdeka di antara mereka dan hamba sahaya – dua mud gandum, atau satu sha’ kurma kering dengan menggunakan mud atau sha’ yang biasa mereka mengukur dengannya makanan pokok mereka.” (ath-Thahawai II:43 dan lafadz ini baginya).

Adapun bolehnya mengeluarkan zakat fitrah satu sha’ selain gandum yang dimaksud di atas, mengacu kepada hadits dari Abu Sa’id al-Khudri r.a. ia berkata, “Kami biasa mengeluarkan zakat fitrah satu sha’ makanan, atau satu sha’ gandum (jenis lain), atau satu sha’ kurma kering, atau satu sha’ susu kering, atau satu sha’ kismis. (Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari III:371 no: 1506, Muslim II:678 no:985, Tirmizi II: 91 no :668, ‘Aunul Ma’bud V:13 no:1601, Nasa’i V:51 dan Ibnu Majah I:585 no:1829).

Dalam Syarah Muslim VII:60 Imam Nawawi menegaskan, “Menurut mayoritas fuqaha tidak boleh mengeluarkan zakat fitrah dengan harganya (bukan berupa makanan pokok).”

Menurut hemat penulis sendiri, pendapat Imam Abu Hanifah r.a. yang membolehkan mengeluarkan zakat dengan harganya tertolak, karena ayat Qur’an mengatakan yang artinya, “Dan Rabbmu tidak pernah lupa.” (Maryam : 64).

Andaikata mengeluarkan zakat fitrah dengan harganya atau uang dibolehkan dan dianggap mewakili, sudah barang tentu Allah Ta’ala dan Rasul-Nya menjelaskannya. Oleh karena itu, kita wajib mencukupkan diri dengan zhahir nash-nash syar’I, tanpa memalingkan (maknanya) dan tanpa pula memaksakan diri untuk mentakwilkan.

Waktu Mengeluarkan Zakat Fitrah

Dari Ibnu Umar r.a. ia berkata, “Rasulullah saw. pernah memerintah (kami) agar zakat fitrah dikeluarkan sebelum orang-orang berangkat ke tempat shalat “Idul Fitri”. (Takhrij haditsnya lihat pembahasan Hukum Zakat Fitrah, beberapa halaman sebelumnya).

Bagi yang punya, boleh mengeluarkan zakat fitrah satu atau dua hari sebelum ‘Idul Fitri. Sebab ada riwayat dari Nafi’, berkata, “Adalah Ibnu Umar r.a. menyerahkan zakat fitrah kepada orang-orang yang berhak menerimanya; dan kaum Muslim yang wajib mengeluarkan zakat mengeluarkannya sehari atau dua hari sebelum ‘Idul Fitri.” (Shahih : Fathul Bari III:375 no:1511).

Haram menunda pengeluaran zakat fitrah hingga di luar waktunya, tanpa adanya udzur syar’i. Dari Ibnu Abbas r.a. berkata, “Rasulullah saw. telah memfardhukan zakat fitrah (atas kaum Muslimin) sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kotor, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Maka barangsiapa yang mengeluarkannya seusai shalat ‘Idul Fitri’, maka dari itu termasuk shadaqah biasa.” (Nash hadits ini sudah termaktub dalam pembahasan Hikmah Zakat Fitrah).

Yang Berhak Menerima Zakat Fitrah

Zakat Fitrah hanya dialokasikan kepada orang-orang miskin saja. Ini didasarkan pada Sabda Nabi saw. yang diriwayatkan melalui Ibnu Abbas r.a., “Sebagai makanan bagi orang-orang miskin.” (Teks Arabnya termuat dalam pembahasan Hikmah Zakat Fitrah).

Shadaqah Tathawwu’

Sangat dianjurkan memperbanyak shadaqah tathawwu’, (shadaqah sunnah). Berdasar firman Allah SWT, “Perumpamaan (infak yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan butir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir; seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Al-Baqarah:261).

Juga berdasarkan sabda Nabi saw., “Tidak ada suatu ketika segenap hamba berada di pagi hari melainkan dua puluh malaikat akan turun lalu salah seorang di antara keduanya berkata, Ya Allah berilah ganti kepada orang tersebut berinfak itu, dan yang lain berdo’a (juga), Ya Allah berilah kerusakan kepada orang yang enggan berinfak itu)." (Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari III:304 no: 1442 dan Muslim II : 700 : 1010).

Dan orang yang paling utama memperoleh shadaqah ialah keluarganya dan kerabatnya. Rasulullah saw. menegaskan, “Sedekah yang diberikan kepada orang miskin adalah berfungsi sebagai shadaqah, sedang yang diberikan kepada kerabat (mempunyai) dua fungsi; sebagai shadaqah dan sebagai silaturrahmi (penyambung hubungan rahim)." (Shahih : Shahihul Jami’us Shaghir no : 3835 dan Tirmidzi II: 84 no: 653).

Sumber: Diadaptasi dari 'Abdul 'Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil 'Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma'ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 448 – 453.
Author:http://alislamu.com

MARHABAN YA RAMADLAN

Posted by MUHAMMAD YUSUF on Monday, August 24, 2009 , under , , , , | comments (0)



Marhaban Ya Ramadhan, Selamat datang bulan Ramadhan. Bulan dimana Allah SWT melimpahkan semua ampunan, hidayah dan rahmatnya kepada kita semua yang beriman lagi bertaqwa. Semoga kita semua tidak menyia – nyiakan tibanya bulan ini, dan berharap kita masih dapat bertemu bulan Ramadhan berikutnya, amin, amin ya rabbal alamin.

DINAMIKA MANU LIMPUNG

Posted by MUHAMMAD YUSUF on Sunday, August 23, 2009 , under , | comments (0)



Terletak disebuah wilayah Kabupaten Batang bagian timur yang sebagian besar masyarakat Jawa mengenal dengan istilah Alas Roban. Tepatnya di Desa Banyuputih Kecamatan Limpung, oleh beberapa tokoh Nahdlatul Ulama Kecamatan Limpung (orde sekarang menyebut dengan istilah pemerhati pendidikan) yang berkeinginan untuk memajukan pendidikan di wilayah Kecamatan Limpung, didirikan sebuah sekolah bernuansa Islami dengan nama Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MANU) Limpung.
Tahun 1985, dengan “dimandegani” K.H. Sya’ir (Alm) yang pada waktu itu menjabat sebagai Rois Syuriyah MWC NU Limpung dengan dibantu H. Mahfudz (Ketua), H. Zamahsari Sj (Wakil ketua), Ali Sodiqin (Sekretaris), Amin Syafi’i (Wakil sekretaris), Mukhlis AS, Ridwan, K Kusnaini Yasin, Munadjat, Madrasah Aliyah NU Limpung lahir sebagai pioner pendidikan Islam modern di Kecamatan Limpung.
Pendirian Madrasah Aliyah NU Limpung setingkat dengan SLTA ini dimulai dari bangunan sederhana diatas tanah wakaf seorang dermawan seluas 90 m2 di Desa Banyuputih yang secara geografis berjarak 10 KM dari pusat kota Kecamatan Limpung. Jika ditinjau dengan kacamata sederhana, posisi MANU Limpung yang terletak jauh dari pusat kota kecamatan Limpung bisa dikatakan unik. Apalagi jika ditelusuri lebih lanjut bahwa jarak antara MANU Limpung dengan Lokalisasi/Prostitusi besar di Kabupaten Batang tidak lebih dari 1 KM. Fenomena ini seperti “Berlian ditengah lumpur Lapindo”. Namun inilah fakta unik yang ditampilkan oleh para pendirinya yang sebagian besar diyakini memiliki kemampuan spiritual diatas manusia umum.
Selanjutnya pada tahun 1987 secara resmi Madrasah Aliyah NU Limpung, sebuah lembaga pendidikan di bawah koordinasi Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Kecamatan Limpung Kabupaten Batang Propinsi Jawa Tengah dan berstatus TERDAFTAR pada Kantor Departemen Agama dan Piagam Nomor : Wk/5.d/153/pgm/MA/1987.
Sebagai bentuk pendidikan formal yang mempunyai komitmen terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, Madrasah Aliyah NU Limpung mempunyai visi Terwujudnya manusia yang bertaqwa, cerdas, terampil dan berakhlakul karimah. Visi tersebut mencerminkan bahwa Madrasah Aliyah NU Limpung bertekad untuk turut andil dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang tercermin dalam semangat keseimbangan antara ilmu-ilmu agama dalam kerangka membentuk sikap, perilaku dasar manusia terdidik yang dilingkupi dengan kecerdasan dan keterampilan yang mampu menjawab tantangan zaman. Dengan kata lain, MANU Limpung didirikan sebagai benteng terakhir untuk membentuk remaja/manusia modern yang tidak meninggalkan nilai-nilai kehidupan Islami.
Pada perkembangannya dengan Surat Keputusan Dirjen Binbaga Islam Departemen Agama RI Nomor : 71/E.IV/PP.03.2/KEP/XII/95 Madrasah Aliyah NU Limpung berubah status menjadi DIAKUI dan pada tahun 2000 dengan SK Nomor : 71/E.IV/PP.03.2/KEP/56/2000 statusnya menjadi DISAMAKAN. Disamping itu, MANU Limpung merupakan satu-satunya sekolah yang mempunyai program studi bahasa, disamping program studi yang lain seperti IPS dan IPA, oleh karena itu, MANU Limpung semakin bersemangat untuk memperluas pengaruh pendidikan Islam di Kecamatan Limpung dengan jalan mendirikan MANU Limpung Kampus 2 di pusat kecamatan Limpung. Tepatnya Desa Babadan Kecamatan Limpung.
Pada tahun 2005 berdasarkan hasil akreditasi madrasah yang dilakukan oleh Dewan Akreditasi Madrasah Provinsi Jawa Tengah maka Madrasah Aliyah NU Limpung dinyatakan sebagai madrasah TERAKREDITAS A (Sangat Baik) dengan Piagam Akreditasi Madrasah Aliyah Nomor Kw.11.4/4/PP.03.2/625.25.03/2005. Konsekuensi logisnya adalah MANU Limpung ditunjuk sebagai Madrasah Pembina bagi Madrasah Aliyah Swasta di wilayah Kabupaten Batang.
Dengan posisinya yang telah kuat namun tetap berkeinginan untuk meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat Kecamatan Limpung, MANU Limpung memberanikan diri untuk melahirkan sekolah-sekolah baru dalam rangka memfasilitasi pencapaian kualitas SDM di wilayah Kecamatan Limpung.
Berdasarkan fenomena kebijakan pemerintah untuk menghidupkan sekolah kejuruan yang siap menciptakan tenaga teknis/trampil, tepatnya tahun 2003 MANU Limpung berinisiatif untuk mendirikan sebuah sekolah menengah kejuruan dengan nama SMK NU Limpung yang sampai sekarang telah memiliki Program Studi Akuntansi dan Manajemen Penjualan. Adapun letak SMK NU Limpung ini berada tepat disebelah barat Terminal Limpung dan pada tahun 2008, MANU Limpung kembali memperluas bidang pendidikan dengan cara mendirikan sekolah kejuruan yang berada di wilayah kecamatan Banyuputih (perlu diketahui, pada tahun 2007 berdiri kecamatan baru yaitu Kecamatan Banyuputih) dengan nama SMK Diponegoro. Sekolah kejuruan yang memiliki paradigma “menciptakan teknisi muda komputer yang berwawasan islami” ini memiliki Program Studi Teknik Informasi dan Komunikasi dengan Program Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan.
MANU Limpung yang saat ini dipimpin oleh Bapak Ali Sodiqin, B.A didukung oleh 40 guru muda (2 diantaranya adalah PNS) selalu berusaha mensejajarkan diri dengan sekolah negeri di Kabupaten Batang. Pada tahun 2006 dan 2007, ketika pemerintah menaikkan standar kelulusan untuk ujian nasional, hampir seluruh siswa SLTA/MA, guru, wali murid yang anaknya sedang duduk di kelas 3 sedang mengalami stress akut karena ketakutan peluang kelulusannya rendah, tapi MANU Limpung justru sanggup menciptakan prestasi kelulusan 100 %. Pada tahun 2006, dari 159 siswa, tidak satupun yang dinyatakan tidak lulus UAN maupun UAM. Selanjutnya pada tahun 2007 MANU Limpung meluluskan 100 % siswanya yang mengikuti UAN maupun UAM dengan jumlah 203 siswa. Sebaliknya pada tahun 2008, dari 241 siswanya yang mengikuti UAN dan UAM tertinggal hanya 2 siswa saja.
Selain persaingan melalui jalur akademis, jalur yang dianggap cukup jitu (jalur TOL) untuk mengantar MANU Limpung ke posisi bagus di tingkat Propinsi adalah melalui jalur prestasi non akademis antara lain:

1.Gugus Depan Tergiat II se-Kwartir Cabang Batang Tahun 2002
2.Juara I Tennis Meja HUT RI ke-57 Kecamatan Limpung Tahun 2002
3.Juara II Lomba Karnaval Tingkat Kecamatan Limpung Tahun 2002
4.Juara III Lomba Marching Band Piala Bupati Batang Tingkat Pelajar Tahun 2003
5.Gugus Depan Tergiat I se-Kwartir Cabang Batang Tahun 2004 dan 2005
6.Juara II Lomba Marching Band Bupati Batang Cup II Tingkat Pelajar/Umum Tahun 2005
7.Juara I Bola Volly Putra-putri Tingkat Kecamatan Tahun 2006
8.Juara I Bola Volly Putri Popda Kabupaten Batang Tahun 2006
9.Juara II Bola Volly Putra Popda Kabupaten Batang Tahun 2006
10.Juara I MTQ Pelajar Tingkat Kabupaten Tahun 2006
11.Juara II Lomba Marching Band Limpung Artha Cup Tahun 2007
12.Juara III Bola Volly Putri Porseni MA Jawa Tengah di Banyumas Tahun 2007
13.Juara I Bola Volly Putri Popda Kabupaten Batang Tahun 2008
14.Juara II Bola Volly Putra Popda Kabupaten Batang Tahun 2008
15.Juara I Pencak Silat Putra Popda Kabupaten Batang Tahun 2008
16.Juara I Karate Putri Popda Kabupaten Batang Tahun 2008
17.Juara II Napak Tilas Perjuangan Tahun 2008, dll

Selanjutnya, MANU Limpung tidak menutup mata bahwa seluruh rangkaian prestasi tersebut juga merupakan kerja bareng MANU Limpung dengan berbagai instansi swasta maupun negeri di wilayah Kabupaten Batang antara lain:
1.BRI Cabang Batang
2.BPR Limpung Arta
3.Telkomsel Grapari Tegal
4.TELKOM Kandatel Pekalongan
5.PO Dewi Sri
6.Koperasi simpan pinjam “Annajah”, dll

Adapun dukungan dari instansi tersebut adalah dukungan pendidikan dalam bentuk pemberian bantuan siswa berprestasi, peningkatan kualitas kegiatan ekstra kurikuler dan bantuan penambahan sarana/prasarana pembelajaran.

SKOL